Penyebab turnover karyawan dapat berasal dari berbagai kondisi yang dialami pekerja selama berada di perusahaan. Sebagian karyawan mungkin mencari kompensasi yang lebih sesuai, sedangkan pekerja lain memilih keluar karena peluang karier, beban kerja, lingkungan kerja, atau hubungan dengan atasan.
Perusahaan perlu memahami alasan tersebut karena turnover tidak selalu muncul akibat satu masalah. Beberapa faktor dapat terjadi secara bersamaan hingga akhirnya mendorong karyawan mempertimbangkan pekerjaan lain.
Dengan mengenali penyebabnya, HR dapat mengevaluasi kondisi tenaga kerja dan menentukan aspek yang perlu mendapat perhatian. Perusahaan juga dapat menggunakan informasi tersebut sebagai dasar untuk memperbaiki pengalaman kerja dan mempertahankan karyawan.
Mengapa Perusahaan Perlu Mengetahui Penyebab Turnover?
Turnover merupakan bagian dari dinamika tenaga kerja. Karyawan dapat mengundurkan diri secara sukarela, sedangkan dalam kondisi lain perusahaan dapat mengakhiri hubungan kerja sesuai alasan dan ketentuan yang berlaku.
Namun, turnover karyawan yang terus terjadi pada posisi atau divisi tertentu dapat menjadi sinyal bagi HR untuk melakukan evaluasi. Perusahaan perlu mencari pola dan memahami alasan di balik keluarnya pekerja.
Sebagai contoh, beberapa karyawan pada satu divisi mungkin mengundurkan diri dalam periode berdekatan. HR dapat memeriksa hasil exit interview, kondisi pekerjaan, pola masa kerja, serta masukan dari tim untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas.
Pemahaman tersebut membantu perusahaan mengambil keputusan berdasarkan informasi, bukan hanya dugaan.
5 Penyebab Turnover Karyawan yang Sering Muncul
1. Kompensasi kurang sesuai
Karyawan dapat mempertimbangkan peluang lain ketika merasa kompensasi yang mereka terima tidak sebanding dengan tanggung jawab atau kondisi pasar. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengevaluasi struktur kompensasi secara berkala.
2. Peluang pengembangan karier terbatas
Sebagian pekerja ingin melihat arah perkembangan karier yang jelas. Jika perusahaan tidak menyediakan kesempatan belajar, peningkatan keterampilan, atau peluang berkembang, karyawan dapat mencari kesempatan tersebut di tempat lain.
3. Beban dan ekspektasi kerja kurang seimbang
Beban kerja yang terus meningkat tanpa dukungan memadai dapat memengaruhi pengalaman kerja. Selain itu, ekspektasi yang tidak realistis dapat membuat pekerja kesulitan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
4. Hubungan dengan atasan kurang baik
Atasan memiliki peran besar dalam pengalaman kerja sehari-hari. Komunikasi yang buruk, kurangnya dukungan, atau minimnya apresiasi dapat memengaruhi kenyamanan karyawan dalam menjalankan pekerjaannya.
5. Lingkungan kerja tidak mendukung
Budaya dan hubungan antarkaryawan juga dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk bertahan. Lingkungan yang tidak sehat, konflik berkepanjangan, atau perlakuan yang tidak adil dapat mendorong pekerja mempertimbangkan pilihan lain.
Data Membantu HR Mengenali Pola Turnover
Perusahaan sebaiknya tidak hanya mengetahui jumlah karyawan yang keluar. HR juga perlu melihat informasi pendukung untuk menemukan pola yang mungkin berkaitan dengan turnover.
Misalnya, HR dapat membandingkan divisi, masa kerja, periode pengunduran diri, alasan keluar, serta informasi lain yang relevan. Catatan tersebut membantu perusahaan mengetahui apakah turnover terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
Selain itu, penggunaan aplikasi absensi online dapat membantu perusahaan memiliki catatan kehadiran yang lebih terstruktur. Informasi kehadiran dapat menjadi salah satu data pendukung ketika HR mengevaluasi kondisi tenaga kerja, tetapi perusahaan tidak sebaiknya menjadikannya satu-satunya indikator penyebab turnover.
Exit interview, survei karyawan, percakapan dengan manajer, dan informasi HR lainnya tetap penting untuk memahami alasan karyawan keluar secara lebih menyeluruh.
Kesimpulan
Penyebab turnover karyawan dapat berkaitan dengan kompensasi, peluang pengembangan karier, beban kerja, hubungan dengan atasan, hingga lingkungan kerja. Namun, alasan setiap karyawan dapat berbeda sehingga perusahaan perlu menghindari kesimpulan berdasarkan satu indikator saja.
HR dapat menggabungkan informasi turnover, exit interview, masukan pekerja, dan catatan tenaga kerja untuk menemukan pola. Dengan memahami penyebab secara lebih tepat, perusahaan dapat menentukan perbaikan yang relevan dan membangun strategi retensi karyawan yang lebih efektif.